Sebuah film yang telah saya tonton bersama teman 3 tahun yang lalu ini, membuat hati saya terenyuh, hingga saat ini film yang mampu membuat saya meneteskan air mata dan mengelus-elus dada ini karena iba, menjadi film tefavorit. Dari anak-anak, remaja, orang tua, sampai presiden Republik Indonesia beserta istrinya pun menyempatkan diri untuk menyaksikan film ini. Sehingga film ini mampu mencapai rating tertinggi penjualannya dan banyak diacungi jempol.
Ikal, begitulah biasanya ia dipanggil, perawakannya kecil, kulit coklat, mata belo, berambut ikal persis seperti nama yang disandangnya. Ia terlahir di Belitong yang ketika itu merupakan pulau terkaya yang ada di Indonesia hingga saat itu bangsa asing datang untuk merebut seluruh kekayaan yang ada di Belitong. Meskipun Belitong merupakan pulau terkaya pada saat itu, tapi masyarakat Belitong belum bisa menikmati kekayaan yang dimilikinya. Dengan demikian tidak menyurutkan semangat para pesisir miskin yang tumbuh menjadi orang yang luar biasa yang berjuang tanpa melihat adanya tembok- tembok pembatas yang menghalanginya dan pantang menyerah.
Bu Muslimah, seorang guru yang baik hati dan penyabar, dengan optimis ia telah memperjuangkan berdirinya SD Muhamadiyyah Gantong yang hampir saja bubar karena bangunan sekolahnya yg hampir rubuh sehingga kurang peminatnya. Ia mengajar di SD Muhamadiyyah Gantong, sebuah sekolah yang tidak layak digunakan, selain dindingnya terbuat dari papan yang terlihat tua, kusam, dan pinggiran dinding itu disangga oleh kayu-kayu, atapnya pun berlubang sehingga ketika hujan ruangan kelas itu digenangi air yang menetes dari atapnya. Berbeda jauh dengan sekolah yang berada disekitarnya, yang bangunannya kokoh dan banyak peminatnya.
Singkat cerita, sekolah yang asal mulanya mau ditutup karena keterbatasan murid-murid yang berminat belajar ke sekolah tersebut, hingga pada tahun ajaran baru ada kesepakatan dari sekolah pusat kalau siswa baru yang mendaftar kurang dari 10 orang, maka sekolah tersebut akan tutup selamanya. Namun ketika semua guru sepakat bahwa sekolah tersebut mau ditutup karena murid yang mendaftar hanya 9 orang muncullah satu orang anak keterbelakangan mental yang hendak belajar di sekolah tersebut, alhasil sekolah tersebut tidak jadi ditutup karena muridnya mencapai target yang ditentukan. Ketika ujian tiba murid yang 10 orang tersebut harus mengikuti ujian di SD terfavorit. Pada saat mereka ujian mendapatkan cemoohan dari sekolah tempat mereka melaksanakan ujian, karena bersekolah hanya menggunakan baju yang lusuh, kumal, dan memakai sandal jepit. Namun dengan kegigihan, mereka dapat melaksanakan ujian sampai selesai.
Suatu hari, SD Muhamadiyyah mengikuti karnaval dengan sekolah yang lainnya dan pada waktu itu semua yang menyaksikan karnaval tersebut merasa kagum dan mereka tindak menyangka jika SD Muhamadiyyah mampu menyaingi SDPN Timah yang notabenenya SD favorit. SD Muhamadiyyah pulang dengan membawa piala yang membanggakan dan semua masyarakat mengakui kalau SD muhamadiyyah itu sekolah yang layak diakui keberadaanya.
Beberapa waktu dari karnaval, SD muhamadiyyah mengikuti cerdas cermat yang saingannya SDPN Timah dan ternyata murid SD Muhamadiyyah yang cerdas-cerdas unggul dengan nilai terbesar. Sehingga orang-orang mengakui jika kualitas SD muhamadiyyah bisa mengalahkan sekolah yang difavoritkan, dan mampu menjadi sekolah yang layak dan di akui. Akhir cerita lulusan SD muhamadiyyah banyak yang sukses hingga salah seorang di antara muridnya melanjutkan sekolah ke luar negri.
Cerita yang sangat bagus dan begitu menarik, sehingga membuahkan suatu kesimpulan dari cerita singkat di atas yaitu; betapa pentingnya pendidikan bagi anak2 bangsa. Dengan segala keuletan dan kesungguhan yang luar biasa mampu menciptakan generasi yang luar biasa pula, meskipun terlahir dari kesederhanaan tapi tak menyurutkan semangat mereka dalam belajar. Cerita di atas patut untuk dijadikan contoh bagi para pelajar sebagai satu motivasi untuk selangkah lebih maju. Karena pada dasarnya melihat kondisi yang di ceritakan di atas jauh berbeda dengan keadaan sekarang yang terfasilitasi baik tempat maupun SDM sebagai tenaga pengajar yang tak terhingga, sehingga tidak ada alasan untuk tidak bersemangat dalam pencapaian masa depan. Mudah-mudahan cerita di atas bermanfaat untuk dijadikan kaca perbandingan untuk menjadi lebih baik. Amin……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar